Cahaya
gelap menyelimuti seluruh kota ini. Bau udara malam yang sejuk sembari angin
bertiup menyapu rambut hitamku yang tebal, sedikit dingin di musim panas.
Begitu banyak anak lelaki disini, berlalu lalang—menikmati hidup. Hanya
segelintir anak perempuan tetap mengayunkan kakinya dan papan beroda itu—tetap
melaju—terbang—dan berputar. Aku hanya satu dari tiga anak perempuan disini.
Itu semua tak membuatku risih ataupun kaku. Kami berbaur. Kami semua berteman.
Melakukan high five, bergurau, segalanya—segalanya
tentang skateboard.
Dibawah
cahaya lampu memakai bantalan siku dan lutut, aku mengayun papanku dan
memamerkan beberapa skill ku—lalu
melontarkan celotehan candaan kepada beberapa anak laki-laki itu. Mereka
menanggapiku ringan. Terlihat diantara mereka berusaha menciptakan gaya baru
maupun berlatih gaya yang sudah ada sebelumnya, mereka bekerja keras. Kami bersama-sama
belajar.
Kali
ini aku menunjukkan skill ku yang
terhebat. Mereka bertepuk tangan untukku. Diantara mereka ada yang mencoba
meraih lenganku untuk merangkulku—memukul ringan kepalaku dan—hebat—itu yang
selalu mereka katakan. Memang diantara 3 perempuan aku cukup baik. Tetapi
mereka tak kalah hebat denganku. Mereka teman-teman yang baik.
Setelah
sayup-sayup suara mereka terhenti—akupun terhenti pada apa yang aku lihat saat
ini. Tiga cowok keren yang sepertinya aku kenal. Mereka berjalan diluar pagar
halaman tempat kami bermain skateboard.
“Guys, aku harus pergi” kataku sambil
menenteng skateboard ku dan mengambil
tasku. Sebagian dari mereka melambaikan tangan dan berteriak ‘see you’ untuk meng-iya-kan kepergianku.
Tapi sebagian yang lain menatapku curiga. But,
who cares!
Aku
melompati pagar dari tempatku tadi dan mendarat tepat didepan ketiga cowok
keren tadi. Tapi—sayang—kakiku sedikit menginjak kaki dari satu diantara tiga
cowok itu. Tepatnya cowok yang blonde
itu. Dia cukup kesakitan rupanya. Ups!
“Arghhh…” raungannya.
“Maaf!”
kataku dengan muka bersalah. Masih dengan bantalan siku dan lutut serta
menenteng skateboard dan juga tasku. Kini mereka bertiga terlihat cukup
terkejut dan menatapku aneh atas kedatanganku yang tiba-tiba ini.
“Emmm,
hai” kataku sok akrab kepada mereka. Cowok
yang tinggi hanya diam masih terkejut. Cowok yang manis—ya menurutku—dia hanya
tersenyum. Dan satunya yang blonde—ya—dia
masih meraung dan memeganggi kakinya yang kuinjak tadi. Sepertinya aku kelewat
semangat. Dan sepertinya ini cukup kacau.
“Emm…
Okay… Namaku Sheanny, kalian bisa
panggil aku Shean. Aku youtuber, dan sepertinya aku pernah
mengunjunggi channel kalian. Dan jika
aku tidak salah kamu Mite, Escav dan Isto” kataku dengan muka sangat—dan sangat malu.
“Ah..
Hai, yups aku Mite dan ini kedua saudaraku Escav dan Isto. Thanks untuk kunjunggannya di channel
kita. Nice to meet you Shean” kata
cowok yang ku bilang manis tadi—Mite.
“Sedang
apa kalian disini?” tanyaku. Escav membuka mulutnya dari lamunannya.
“Kami
sedang liburan. Sebenarnya kami berempat tapi mom ada dihotel” sambil menunjuk hotel yang tak jauh dari tempat
kami sekarang “Dan yang pasti kami tidak tau tempat ini” lanjutnya.
“Mungkin
kamu bisa bantu kami berkeliling?” tambah Isto. Sepertinya dia tidak membenciku
karna kakinya kuinjak tadi. Dan mungkin rasa sakit kaki nya sudah tak berasa.
“Dengan
senang hati” jawabku dengan perasaan yang kelewat bahagia.
Kami
mulai berjalan-jalan disekitar pusat kota. Dari mana aku harus memulai
pembicaraan. Aku sangat gugup—sangat.
“So, you’re skateboarder?” Mite memulai
pembicaraan. Dia sungguh manis, tampan, tinggi, kurus, suaranya lembut—dan
matanya. Aku mungkin menyukainya.
“Ya,
hanya bagian dari hobby” jawabku dengan nada setenang mungkin.
“Hebat!”
kata Mite—dan dia tersenyum.
Berkeliling
sekitar pusat kota yang hari ini sangat ramai dipadati remaja-remaja yang
menghabiskan waktu liburnya entah bersama pacar atau teman-temannya. Tapi semua
itu tak menghalangi kami untuk saling berbagi cerita—ya kami banyak bercerita
disepanjang jalan. Aku menunjukkan beberapa tempat disana. Aku merasa nyaman.
Berjalan disampingnya—Mite. Aku selalu memandangginya dari samping. Terkadang
dia menyadari itu dan langsung terlihat malu—begitu pula aku.
Isto
kelaparan, dan aku memutuskan untuk mengajak mereka ke sebuah makanan pinggir
jalan. Apapun yang terjadi—ternyata mereka menyukainya. Isto terlihat makan
dengan lahap sedangkan Escav dan Mite terlihat menikmatinya. Ketika makan Isto
sangat konyol apalagi sekarang dia
sangat kelaparan. Escav memotret aku dan Mite disamping Isto yang kelaparan,
terlihat sangat lucu.
Setelah
makan kami memutuskan untuk pulang. Jam kini menunjukkan pukul 22.30. aku
mengantar mereka kehotel tempat mereka menginap. Waktu yang singkat ini sudah
menjadikan kami seorang teman kini. Saat tiba didepan hotel tiba-tiba Mite
memegang pundakku.
“Ku
antar pulang ya? Sudah larut” katanya.
“Aku
bisa cari taksi kok, Mite” jawabku. Sebenarnya aku sangat berharap dia
mengantarku sih.
“Udahlah
Shean, biar Mite antar kamu. OK”
tambah Escav—dia mengedipkan mata—ahh—merayuku? Jangan-jangan Escav tau kalau dari
tadi aku selalu mengamati Mite.
“OK” jawabku dengan perasaan curiga.
Akupun dan Mite masuk kedalam taksi.
“Bye-bye sweetie, ku tunggu besok” kata
Isto sambil melambaikan tangan dan kulihat Escav tersenyum aneh. STOP! Apa yang
dimaksud dengan—ku tunggu besok? Apa aku akan pergi bersama Mite lagi? Awww—but—buttt—why? Aku masih canggung, dan apa yang
harus kulakukan besok?
Didalam
taksi aku dan Mite hanya diam—dan—tersenyum. Tak banyak yang dibicarakan, aku
sungguh gugup. Sepertinya dia terlihat sama halnya denganku. Sampai akhirnya
sampai didepan rumahku.
“OK Mite, thankyou” kataku—malu-malu.
“Kamu
masih mau kan jalan bareng kita. Kita cuma kenal kamu disini. Please” kata Mite.
“OK” kataku dengan gaya se-cool mungkin.
“Good night, see you”. OMG Mite baru saja mencium pipiku—ohh God rasanya pengen teriak, atau mungkin
ini biasa dilakukan di Australia—good
night kiss? Terserahlah yang penting aku sangat—sangat bahagia.
Esok
hari nya aku pergi berjalan-jalan dengan mereka bertiga lagi. Semua itu terjadi
selama empat hari. Kami semakin akrab, apalagi aku dan Mite. Luar biasa. Dihari
ke lima, seperti biasa aku pergi kehotel mereka. Hari ini aku dikamar hotel
mereka, main-main. Dua hari lagi mereka pulang. Dan sudah banyak tempat yang
kami kunjungi. Rasa nya sedih.
Aku
duduk disofa bersama Mite, sedangkan Escav dan Isto tiduran diatas ranjang.
Tiba-tiba Escav pergi dari kamar—entahlah. Dan kemudian Isto pun pergi dari
kamar—apa yang mereka rencanakan? Kini hanya aku dan Mite—hanya kita berdua.
Aku semakin gugup.
“Kenapa
kalian harus pulang dua hari lagi. Kita baru saja bertemu—baru saja berteman,
uhf” kataku mencoba memecah keheningan.
“Aku
juga masih ingin disini. Denganmu” jawab Mite—tunggu—apa maksudnya
‘Denganmu’—aku?
“Maksudnya?”
tanyaku sok polos. Kini dia menatapku—dalam. Oh God!
“Kamu
lucu” jawabnya yang gak masuk akal—dia meneruskan.
“Oke,
aku gak tau ini terjadi sejak kapan, mungkin dari pertama atau entahlah. Shean
maaf” ucapnya dan—maaf untuk?
“Aku
mencintaimu, hanya itu, tanpa alasan” dia melanjutkan lagi “Aku merasakan ini
sejak entahlah, cukup rumit. Terserah apa yang akan kamu jawab. Tapi ini aku
sekarang. Aku gugup mengatakannya” katanya dan dia terlihat payah. Tapi,
entahlah jantungku serasa berhenti berdetak—atau mungkin aku gila—aku gak
nyangka—Mite—oh God—aku sama payahnya
urusan seperti ini—dan aku sama gugupnya.
“Tanpa
alasan..” kataku dan “Tanpa alasan pula aku menerima mu” lanjutku. Dia terlihat
bahagia tapi kacau. Kami sangat payah. Dia mendekat—dan terus
mendekat—jantungku kembali berhenti sejenak—Mite akan menciumku? Kini dia
benar-benar dekat—aku gugup—sesak nafas—dia menyentuh pipiku lembut—dan
entahlah—aku mulai gila lagi—cukup—aku harus tenang—dan…
“Mite….”
seseorang membuka pintu. UPSSS!!!
Kami menoleh kearah pintu. Itu Mom Ete—ibunya
Mite, dan ada dua orang berdiri dibelakangnya—ya—itu Escav dan Isto, mereka
terlihat sama kacaunya dengan aku dan Mite.
“Mom…” sesal Escav merintih dibelakang
ibunya.
“Maaf,
mommy gak tau. Okey kalian bisa
lanjutin. I’m so sorry” sesal mom
Ete. Aku hanya tertawa kecil. Mereka keluar dan menutup pintu. Aku hanya bisa
memeluk Mite sekarang—sungguh konyol. Aku sangat menyayangi dia.
“Aku
sudah menghalanginya masuk, tapi mommy gak ngerti” desis Isto, dia membuka
pintu lagi kemudian menutupnya lagi. Dia sungguh mengagetkan kami
berdua—kulepas pelukkannya—ini rencana konyol Isto dan Escav—terserah—tapi
mereka berhasil.
Waktu
yang tidak pernah kami tunggu datang juga. Hari ketujuh dan ini waktunya mereka
pulang ke Australia. Aku sangat sedih—sangat aku hanya memilikinya selama dua
hari—sangat burukkan? Aku mengantar mereka bertiga dan mom Ete ke bandara.
“Buddy, kami akan merindukanmu. Kami akan
balik kesini lagi, tenang okay” kata Escav menenangkanku. Aku tidak tahan—aku
menangis—ini satu minggu terbaik dalam hidupku, dan mereka ada didalamnya.
“Sweetie,
aku akan menghubungimu nanti jika aku sampai dirumah” ucap Isto—dan dia
memelukku layaknya kakak.
“Kami
akan sangat merindukanmu, dan mommy tak sabar untuk kembali kesini lagi” kata
mom Ete. Sungguh aku tak merelakan mereka pulang.
“Shean,
ini akan menjadi liburan musim panas terindah dalam hidupku. I promise that i won't forget you. ‘Cause you
were my summer love” ucap Mite sebelum ia melambaikan tangan dan pergi. Dan
dia mengecup bibirku untuk pertama kali. Semoga dia akan janjinya—semoga.
“Bye”.
waaa keren :D Ikuti aku juga yaaaa soniaa :3 inget aku kan?
BalasHapusmakasih :) masih dong :)
Hapus