Selasa, 05 November 2013

Summer Love



Cahaya gelap menyelimuti seluruh kota ini. Bau udara malam yang sejuk sembari angin bertiup menyapu rambut hitamku yang tebal, sedikit dingin di musim panas. Begitu banyak anak lelaki disini, berlalu lalang—menikmati hidup. Hanya segelintir anak perempuan tetap mengayunkan kakinya dan papan beroda itu—tetap melaju—terbang—dan berputar. Aku hanya satu dari tiga anak perempuan disini. Itu semua tak membuatku risih ataupun kaku. Kami berbaur. Kami semua berteman. Melakukan high five, bergurau, segalanya—segalanya tentang skateboard.
Dibawah cahaya lampu memakai bantalan siku dan lutut, aku mengayun papanku dan memamerkan beberapa skill ku—lalu melontarkan celotehan candaan kepada beberapa anak laki-laki itu. Mereka menanggapiku ringan. Terlihat diantara mereka berusaha menciptakan gaya baru maupun berlatih gaya yang sudah ada sebelumnya, mereka bekerja keras. Kami bersama-sama belajar.
Kali ini aku menunjukkan skill ku yang terhebat. Mereka bertepuk tangan untukku. Diantara mereka ada yang mencoba meraih lenganku untuk merangkulku—memukul ringan kepalaku dan—hebat—itu yang selalu mereka katakan. Memang diantara 3 perempuan aku cukup baik. Tetapi mereka tak kalah hebat denganku. Mereka teman-teman yang baik.
Setelah sayup-sayup suara mereka terhenti—akupun terhenti pada apa yang aku lihat saat ini. Tiga cowok keren yang sepertinya aku kenal. Mereka berjalan diluar pagar halaman tempat kami bermain skateboard.
Guys, aku harus pergi” kataku sambil menenteng skateboard ku dan mengambil tasku. Sebagian dari mereka melambaikan tangan dan berteriak ‘see you’ untuk meng-iya-kan kepergianku. Tapi sebagian yang lain menatapku curiga. But, who cares!
Aku melompati pagar dari tempatku tadi dan mendarat tepat didepan ketiga cowok keren tadi. Tapi—sayang—kakiku sedikit menginjak kaki dari satu diantara tiga cowok itu. Tepatnya cowok yang blonde itu. Dia cukup kesakitan rupanya. Ups!
Arghhh…” raungannya.
“Maaf!” kataku dengan muka bersalah. Masih dengan bantalan siku dan lutut serta menenteng skateboard dan juga tasku. Kini mereka bertiga terlihat cukup terkejut dan menatapku aneh atas kedatanganku yang tiba-tiba ini.
“Emmm, hai” kataku sok akrab kepada mereka. Cowok yang tinggi hanya diam masih terkejut. Cowok yang manis—ya menurutku—dia hanya tersenyum. Dan satunya yang blonde—ya—dia masih meraung dan memeganggi kakinya yang kuinjak tadi. Sepertinya aku kelewat semangat. Dan sepertinya ini cukup kacau.
“Emm… Okay… Namaku Sheanny, kalian bisa panggil aku Shean. Aku youtuber, dan sepertinya aku pernah mengunjunggi channel kalian. Dan jika aku tidak salah kamu Mite, Escav dan Isto” kataku dengan muka sangat—dan sangat malu.
“Ah.. Hai, yups aku Mite dan ini kedua saudaraku Escav dan Isto. Thanks untuk kunjunggannya di channel kita. Nice to meet you Shean” kata cowok yang ku bilang manis tadi—Mite.
“Sedang apa kalian disini?” tanyaku. Escav membuka mulutnya dari lamunannya.
“Kami sedang liburan. Sebenarnya kami berempat tapi mom ada dihotel” sambil menunjuk hotel yang tak jauh dari tempat kami sekarang “Dan yang pasti kami tidak tau tempat ini” lanjutnya.
“Mungkin kamu bisa bantu kami berkeliling?” tambah Isto. Sepertinya dia tidak membenciku karna kakinya kuinjak tadi. Dan mungkin rasa sakit kaki nya sudah tak berasa.
“Dengan senang hati” jawabku dengan perasaan yang kelewat bahagia.
Kami mulai berjalan-jalan disekitar pusat kota. Dari mana aku harus memulai pembicaraan. Aku sangat gugup—sangat.
So, you’re skateboarder?” Mite memulai pembicaraan. Dia sungguh manis, tampan, tinggi, kurus, suaranya lembut—dan matanya. Aku mungkin menyukainya.
“Ya, hanya bagian dari hobby” jawabku dengan nada setenang mungkin.
“Hebat!” kata Mite—dan dia tersenyum.
Berkeliling sekitar pusat kota yang hari ini sangat ramai dipadati remaja-remaja yang menghabiskan waktu liburnya entah bersama pacar atau teman-temannya. Tapi semua itu tak menghalangi kami untuk saling berbagi cerita—ya kami banyak bercerita disepanjang jalan. Aku menunjukkan beberapa tempat disana. Aku merasa nyaman. Berjalan disampingnya—Mite. Aku selalu memandangginya dari samping. Terkadang dia menyadari itu dan langsung terlihat malu—begitu pula aku.
Isto kelaparan, dan aku memutuskan untuk mengajak mereka ke sebuah makanan pinggir jalan. Apapun yang terjadi—ternyata mereka menyukainya. Isto terlihat makan dengan lahap sedangkan Escav dan Mite terlihat menikmatinya. Ketika makan Isto sangat  konyol apalagi sekarang dia sangat kelaparan. Escav memotret aku dan Mite disamping Isto yang kelaparan, terlihat sangat lucu.
Setelah makan kami memutuskan untuk pulang. Jam kini menunjukkan pukul 22.30. aku mengantar mereka kehotel tempat mereka menginap. Waktu yang singkat ini sudah menjadikan kami seorang teman kini. Saat tiba didepan hotel tiba-tiba Mite memegang pundakku.
“Ku antar pulang ya? Sudah larut” katanya.
“Aku bisa cari taksi kok, Mite” jawabku. Sebenarnya aku sangat berharap dia mengantarku sih.
“Udahlah Shean, biar Mite antar kamu. OK” tambah Escav—dia mengedipkan mata—ahh—merayuku? Jangan-jangan Escav tau kalau dari tadi aku selalu mengamati Mite.
OK” jawabku dengan perasaan curiga. Akupun dan Mite masuk kedalam taksi.
Bye-bye sweetie, ku tunggu besok” kata Isto sambil melambaikan tangan dan kulihat Escav tersenyum aneh. STOP! Apa yang dimaksud dengan—ku tunggu besok? Apa aku akan pergi bersama Mite lagi? Awww—butbutttwhy? Aku masih canggung, dan apa yang harus kulakukan besok?
Didalam taksi aku dan Mite hanya diam—dan—tersenyum. Tak banyak yang dibicarakan, aku sungguh gugup. Sepertinya dia terlihat sama halnya denganku. Sampai akhirnya sampai didepan rumahku.
OK Mite, thankyou” kataku—malu-malu.
“Kamu masih mau kan jalan bareng kita. Kita cuma kenal kamu disini. Please” kata Mite.
OK” kataku dengan gaya se-cool mungkin.
Good night, see you”. OMG Mite baru saja mencium pipiku—ohh God rasanya pengen teriak, atau mungkin ini biasa dilakukan di Australia—good night kiss? Terserahlah yang penting aku sangat—sangat bahagia.
Esok hari nya aku pergi berjalan-jalan dengan mereka bertiga lagi. Semua itu terjadi selama empat hari. Kami semakin akrab, apalagi aku dan Mite. Luar biasa. Dihari ke lima, seperti biasa aku pergi kehotel mereka. Hari ini aku dikamar hotel mereka, main-main. Dua hari lagi mereka pulang. Dan sudah banyak tempat yang kami kunjungi. Rasa nya sedih.
Aku duduk disofa bersama Mite, sedangkan Escav dan Isto tiduran diatas ranjang. Tiba-tiba Escav pergi dari kamar—entahlah. Dan kemudian Isto pun pergi dari kamar—apa yang mereka rencanakan? Kini hanya aku dan Mite—hanya kita berdua. Aku semakin gugup.
“Kenapa kalian harus pulang dua hari lagi. Kita baru saja bertemu—baru saja berteman, uhf” kataku mencoba memecah keheningan.
“Aku juga masih ingin disini. Denganmu” jawab Mite—tunggu—apa maksudnya ‘Denganmu’—aku?
“Maksudnya?” tanyaku sok polos. Kini dia menatapku—dalam. Oh God!
“Kamu lucu” jawabnya yang gak masuk akal—dia meneruskan.
“Oke, aku gak tau ini terjadi sejak kapan, mungkin dari pertama atau entahlah. Shean maaf” ucapnya dan—maaf untuk?
“Aku mencintaimu, hanya itu, tanpa alasan” dia melanjutkan lagi “Aku merasakan ini sejak entahlah, cukup rumit. Terserah apa yang akan kamu jawab. Tapi ini aku sekarang. Aku gugup mengatakannya” katanya dan dia terlihat payah. Tapi, entahlah jantungku serasa berhenti berdetak—atau mungkin aku gila—aku gak nyangka—Mite—oh God—aku sama payahnya urusan seperti ini—dan aku sama gugupnya.
“Tanpa alasan..” kataku dan “Tanpa alasan pula aku menerima mu” lanjutku. Dia terlihat bahagia tapi kacau. Kami sangat payah. Dia mendekat—dan terus mendekat—jantungku kembali berhenti sejenak—Mite akan menciumku? Kini dia benar-benar dekat—aku gugup—sesak nafas—dia menyentuh pipiku lembut—dan entahlah—aku mulai gila lagi—cukup—aku harus tenang—dan…
“Mite….” seseorang membuka pintu. UPSSS!!! Kami menoleh kearah pintu. Itu Mom Ete—ibunya Mite, dan ada dua orang berdiri dibelakangnya—ya—itu Escav dan Isto, mereka terlihat sama kacaunya dengan aku dan Mite.
Mom…” sesal Escav merintih dibelakang ibunya.
“Maaf, mommy gak tau. Okey kalian bisa lanjutin. I’m so sorry” sesal mom Ete. Aku hanya tertawa kecil. Mereka keluar dan menutup pintu. Aku hanya bisa memeluk Mite sekarang—sungguh konyol. Aku sangat menyayangi dia.
“Aku sudah menghalanginya masuk, tapi mommy gak ngerti” desis Isto, dia membuka pintu lagi kemudian menutupnya lagi. Dia sungguh mengagetkan kami berdua—kulepas pelukkannya—ini rencana konyol Isto dan Escav—terserah—tapi mereka berhasil.
Waktu yang tidak pernah kami tunggu datang juga. Hari ketujuh dan ini waktunya mereka pulang ke Australia. Aku sangat sedih—sangat aku hanya memilikinya selama dua hari—sangat burukkan? Aku mengantar mereka bertiga dan mom Ete ke bandara.
Buddy, kami akan merindukanmu. Kami akan balik kesini lagi, tenang okay” kata Escav menenangkanku. Aku tidak tahan—aku menangis—ini satu minggu terbaik dalam hidupku, dan mereka ada didalamnya.
“Sweetie, aku akan menghubungimu nanti jika aku sampai dirumah” ucap Isto—dan dia memelukku layaknya kakak.
“Kami akan sangat merindukanmu, dan mommy tak sabar untuk kembali kesini lagi” kata mom Ete. Sungguh aku tak merelakan mereka pulang.
“Shean, ini akan menjadi liburan musim panas terindah dalam hidupku. I promise that i won't forget you. ‘Cause you were my summer love” ucap Mite sebelum ia melambaikan tangan dan pergi. Dan dia mengecup bibirku untuk pertama kali. Semoga dia akan janjinya—semoga.
“Bye”.

2 komentar: